Sahabatku Ibu dari Anakku

Waaaah, ini judulnya udah seperti salah satu FTV stasiun nasional, auto terdengar alunan melodi “ku menangis membayangkan……” haha eeh tapi bukan cerita tentang perselingkuhan ya 🙂 Kali ini saya akan menceritakan cerita persahabatan saya yang lengket kayak ketan. Saya punya sahabat satu-satunya yang terhitung sudah terjalin selama kira-kira 16 tahun. Kami kenal dari SMP kelas 2, tahun 2004 kalau tidak salah ingat. Nama sahabat saya ini Anita.

Perkenalan Unik Kami

Perkenalan kami sebenarnya dibilang sengaja dan tidak sengaja sih. Anita ini anaknya iseng. Saat itu saya punya cinta monyet sebut aja L (jangan bayangin L Infinite Kim Myung Soo, kejauhan!). Nah suatu siang pulang sekolah, Anita ini iseng menelepon saya, ditemani temannya si Raras, lewat wartel berpura-pura menjadi si L lalu mengarang cerita kalau si L ini kecelakaan. Anita mengatur cerita biar saya ke rumah si L. Iya, ngeprank kalau istilah jaman sekarang. Saya otomatis nggak percaya saat itu, saya langsung kroscek ke si L yang emang rumahnya hanya selemparan batu sama rumah saya hehe (balada suka tetangga sendiri), ternyata beneran bohong dong si Anita. Nggak sih saya nggak jengkel, cuma penasaran ngapain isengnya jauh banget ke saya lha wong saya nggak kenal sama Anita, nggak sekelas juga 😅😅 Usut punya usut ternyata karena si Raras teman Anita tadi itu punya gebetan juga yaitu tetangga saya belakang rumah 😂 Yaelah muter aja di situ bambank. Setelah telepon iseng itu, besok paginya si sekolah Anita dan Raras mampir ke kelas saya sambil senyum senyum simpul, lalu kami berkenalan.

Perbedaan Sifat

Sejak perkenalan itu saya jadi akrab sama Anita juga Raras. Waktu kelas 3 SMP saya akhirnya sekelas sama Anita. Kami duduk sebangku, secontekan, securhatan, semuanya lah. Rumah Anita jauh banget dari rumah saya, jadi tiap pulang sekolah dia menunggu jemputan ayahnya di rumah saya. 
 
Kami berdua sebenarnya punya sifat yang bertolak belakang sekali. Saya cenderung feminin, suka warna pink, suka anak band, suka anak basket, teratur, serba rapi, nggak pernah tidur di kelas. Si Anita yang cenderung cuek, bahkan tomboy, ada kalanya suka pelupa, suka tidur di kelas, dan pernah melabrak anak orang. Iya, jangan coba-coba mencari masalah sama Anita, auto digeplak karena aura premannya keluar haha karena dia juga pernah ikut judo. Ada suatu hari yang paling saya ingat, Anita salah pakai seragam ditambah dia datangnya hampir bel berbunyi, di mana para guru sudah ramai berdatangan, ya kena tegur dong dia dan dia selalu punya jurus seribu alasan 😂. Ada lagi cerita kacamatanya ketinggalan di laci bangku sekolah. Pagi di hari Minggu yang indah, dia tiba-tiba menelepon saya untuk menemani dia mengambil kacamatanya yang ketinggalan di sekolah. Hadeh mengganggu sekali ya kan haha. Oh iya, satu lagi perbedaan dari kami berdua, saya suka drama Korea kalau Anita suka India, heran saya kenapa beda ‘kiblat’.
 

Persahabatan Berlanjut

Persahabatan terus berlanjut hingga SMA. Sekolah saya adalah sekolah Yayasan yang ruang lingkupnya terbatas itu aja. Jadi waktu SMA saya tidak pindah sekolah dan tetap di sekolah Yayasan tersebut. Di kelas 10 dan 11 saya dan Anita kembali tidak satu kelas. Oh iya kami berada di jurusan sama, IPS. Kalau Raras di jurusan IPA. Walau berbeda kelas saya dan Anita tetap jalan bareng. Beda dengan Raras yang lebih banyak main sama teman IPA nya apalagi si Raras punya genk sendiri. Jadilah saya sama Anita berdua ke mana-mana. Tidak menyangka juga kami satu kelas lagi di kelas 12. Dari situ kami bertemu teman baik lainnya. 
Ada suatu masa di kelas 12 ketika kami semua harus memikirkan akan melanjutkan pendidikan di mana dan jurusan apa. Saya dan Anita serta beberapa teman akrab lainnya iseng untuk mengikuti tes jalur mandiri di salah satu perguruan negeri di Jawa Tengah, sayangnya enggak diterima semua di sana. Lol. Akhirnya saya pasrah (tepatnya memasrahkan diri) untuk mengambil jurusan pendidikan di Jawa Timur. Eh nggak disangka juga kalau sahabat saya, Anita, mengambil jurusan pendidikan. Ibunya memang seorang guru, sama dengan latar belakang keluarga besar saya yang kebanyakan menjadi pengajar entah guru atau dosen. Bedanya, Anita kuliah di Kalimantan Timur. Jauhnya jarak tidak membuat kami putus silaturahmi, walau dia sudah memakai BBM namun saya tidak haha. Anita juga tetap pada kejahilannya. Dia pernah membohongi saya kalau dia akan segera menikah, saat itu masih menginjak semester 5. Saya sudah heboh waktu itu eeeh ternyata dia ngeprank lagi. Ya, saya sudah lama rasanya nggak diisengin sama dia, jadi nggak peka haha 😂😂
 

Berbeda Nasib Pekerjaan tapi Tidak untuk Kisah Cinta

Anita lulus lebih dulu daripada saya, lalu dia melamar pekerjaan menjadi guru di sekolah kami dulu dan alhamdulillah diterima. Setelah lulus kuliah saya segera pulang kampung lagi ke Kalimantan dan melamar di salah satu bimbingan belajar di sana. Saya mencoba melamar di sekolah almamater saya, eeh nggak diterima dong wahahah 😂 Saya mentok cuma ditawarkan menjadi guru pengganti di sekolah saya hanya kurun waktu 3-4 bulan. Setelahnya saya mencoba melamar di beberapa sekolah lainnya namun mungkin belum rezeki saya untuk mengajar di sekolah.
 
Tak disangka jodohpun datang di antara kami berdua. Sebenarnya Anita lebih dulu memiliki calon pendamping hidup. Namun tidak lama berselang setelah Anita, saya ada yang melamar juga dan tanpa mengulur waktu saya pun menikah menyusul Anita selang dua bulan saja di tahun 2015. Oh iya calon suami saya saat itu bekerja di salah satu perusahaan di mana Ayah Anita sendiri menjadi pimpinan dan ipar Anita adalah teman calon suami saya. Mungkin memang takdir Allah ingin selalu mendekatkan kami. Kami pun mengandung anak pertama tapi sahabat saya lebih dulu mendapatkan momongan daripada saya, lalu saya menyusul beberapa bulan kemudian.
 

Drama Asi Hingga Sepersusuan

Kisah persahabatan saya dan Anita tidak henti di situ saja. Ketika saya melahirkan di tahun 2017 dan merasa depresi pasca melahirkan, Asi saya menjadi seret dan anak saya tidak bisa buang air selama dua hari. Saya stress parah saat itu karena Asi tak kunjung keluar ditambah ocehan dari orangtua saya yang membuat saya menjadi linglung. Tanpa berpikir panjang, saya menelepon Anita dan meminta Asi dia untuk anak saya. Qadarullah anak Anita juga perempuan, jadi dalam Islam masih sah untuk mendonorkan Asi. Para ulama sepakat membolehkan donor ASI dengan catatan harus secara langsung melalui payudara kepada bayi. Kebolehan ini berdalil dengan keumuman ayat Alquran, “Dan, tolong-menolonglah kamu dalam [mengerjakan] kebaikan dan takwa dan jangan tolong-menolong dalam berbuat dosa dan pelanggaran.” (QS al-Maidah (5]: 2). Alhamdulillah anak saya tertolong dari donor Asi sahabat saya. Anak saya memiliki dua ibu, ibu kandung dan ibu sepersusuan, juga memiliki kakak sepersusuan. Masya Allah, Tabarakallah. Semoga Allah selalu melapangkan keberkahan rezeki untuk Anita dan keluarga, aamiin.
 
Saat ini saya kembali lagi ke Jawa mengikuti suami. Saya harus berpisah kembali dengan sahabat saya. Walau begitu kami tidak putus silaturahmi bahkan hampir setiap hari saling berkirim kabar. Apalagi saat pandemi seperti ini, di mana kami berdua memiliki stress walau level berbeda. Dia harus menghadap layar komputer setiap waktu untuk mengajar online, lalu saya stress karena berkutat dengan pekerjaan rumah tangga yang entah kenapa saat pandemi ini mood saya untuk mengerjakan pekerjaan domestik cenderung menurun. Hmm, mungkinkah karena saya terlalu cemas lalu menjadi overthinking hehe.
 
Anita adalah sahabat saya satu-satunya yang mengenal saya luar dalam bahkan lebih dari suami saya haha. Jujur, kami sendiri walau bersahabat tetap saling menjaga privasi, contoh tentang pekerjaan suami, gaji, dan hal sensitif lain kami tidak pernah membahasnya. Isi obrolan kami otomatis seputar anak, kadang kebanyolan dia yang mulai ‘kumat’ kalau lagi stress, kadang ghibah juga hihi.. Yang penting walau keadaan apapun jangan sampai dirusak dengan hal berbau hutang piutang, itu tidak pernah ada dalam kamus persahabatan kami. Semoga Allah selalu menyertai kami dalam kebaikan-kebaikan, aamiin.
 
“Perumpamaan kawan yang baik dan kawan yang buruk seperti seorang penjual minyak wangi dan seorang peniup alat untuk menyalakan api (pandai besi). Adapun penjual minyak wangi, mungkin dia akan memberikan hadiah kepadamu, atau engkau membeli darinya, atau engkau  mendapatkan bau harum darinya. Sedangkan pandai besi, mungkin dia akan membakar  pakaianmu, atau engkau mendapatkan bau yang buruk”.[HR. Bukhari dan Muslim]
Bonus foto saya dan Anita serta anak-anak kami saat syukuran tahun pertama Yumna, anak Anita :
Jember, Juli 2020
Anggi
Anggi Octaviani
Latest posts by Anggi Octaviani (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *