Insya Allah, Bersahabat Hingga Ke Surga

Kami adalah sahabat sejak SMP namun terpisah oleh jarak dan waktu, lalu dipertemukan kembali setelah puluhan tahun oleh hobbi dan minat yang sama.

 

“Ida, sakit-ki pinggangku kawue…”

“Minum-ki madu Marda, perbaiki cara-ta sujud, dan jangki lupa berdoa.”

Sehari kemudian, sebuah paket yang berisi madu, obat herbal, dan buku-buku bertema agama tiba di rumah saya. Itulah kiriman Ida.

Beberapa hari kemudian.

“Idaaaa, sembuh-maa…berkat doa dan kiriman obat herbal-ta, Allah menyembuhkan penyakit saya.”

“Alhamdulillah, jangki lupa mengaji na… saya ingin sekali  kelak kita bergandengan tangan menuju surga.”

Iye, insya Allah.”

 

Demikianlah bentuk perhatian sahabat saya yang satu ini. Bukan karena kiriman paketnya saja yang membuat saya merasa sangat diperhatikan, tetapi kesediaannya mendengarkan keluhan saya, keikhlasannya mendoakan dan terus mengingatkan tentang hal-hal baik adalah anugrah yang tak terkira.

Bersahabat Sejak SMP

Dahulu, ia adalah ketua OSIS di sekolah saya, selalu juara baca puisi juga mengarang. Kami bergantian memegang juara dalam bidang yang sama. Kadang ia juara 1 dan saya juara 2, pernah pula ia juara 2 dan saya juara 3.

Eh, itu tidak bergantian namanya karena saya selalu berada di belakangnya, tak pernah bisa menyalip, hi-hi-hi. Tapi kami tetap bersahabat.

Setiap pulang sekolah, kami naik becak berdua, tertawa-tawa menertawakan kekurangan masing-masing. Saat teman-teman memakai pakaian bagus atau memakai tas baru maupun sepatu baru yang bagus, kami tertawa cekikikan sambil melihat sepatu kami yang sudah usang. Menertawakan ketidakmampuan kami.

Ada satu kejadian yang membuat saya marah kepada senior di organisasi kepemudaan Muhammadiyah yang kami ikuti. Saat itu kami mengikuti pengkaderan Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ida tampil di depan kelas memperkenalkan diri. Bergantianlah senior bertanya, semacam uji nyali dan melatih kemampuan peserta berbicara.

Umumnya, peserta akan berakhir dengan tangisan. Entah itu mentalnya yang jatuh karena digertak, entah itu karena malu tak dapat menjawab dengan baik, dan sebagainya.

Tapi Ida tidak semudah itu ditaklukkan. Setiap pertanyaan ia jawab dengan baik, artikulasinya jelas dan suaranya pun tegas. Tapi, dasar senior, mereka tak mau berhenti sebelum berhasil membuat peserta menyerah.

Tiba-tiba salah seorang senior bertanya tentang ibunya. Saya tahu, jika itu menyangkut ibunya, pasti ia menyerah, dan air matanya tak dapat dibendung.

Dugaan saya betul. Ida tak mampu menjawab, ia sesenggukan, teringat ibunya yang sudah lama tiada.

Saya marah, dengan menggebrak meja saya menginterupsi.

“Apakah kakak-kakak senior sudah puas? Senang melihat orang menangisi masa lalu yang tak perlu diungkapkan?”

Ruangan menjadi hening. Ida disuruh kembali ke kursinya. Saya menghiburnya dengan memberinya minum.

Sejak saat itu, tak satupun teman apalagi senior yang berani menyinggung soal ibunya.

Tibalah saatnya kami berpisah. Ia melanjutkan sekolahnya ke SMEA dan saya ke SMA.

Sejak saat itu kami tak pernah lagi berhubungan. Media komunikasi waktu itu belum sebaik sekarang.

Facebook Mempertemukan Kembali

Saya lupa tahun berapa saya mulai menggunakan facebook. Tapi saat saya mulai memiliki akun facebook, saya sibuk mengetikkan nama-nama teman lama, termasuk namanya. Sayang saya tidak menemukan dia.

Tahun 2015, saya mulai bergabung dengan Ibu-Ibu Doyan Nulis (IIDN) Pusat. Tiba-tiba saya menemukan nama yang tak asing buat saya. yah, nama Ida ada di sana. Saya lalu mengajaknya berteman, saya ingin memastikan apakah memang dia adalah Ida sahabat saya yang selama ini saya cari?

Masya Allah, memang betul dia IDA, sahabat saya yang sekian tahun tak pernah berhubungan.

Sejak saat itu hubungan kami terjalin kembali, malahan semakin dekat. Bukan lagi bercerita tentang masa lalu, tapi saling mendukung dalam menata masa depan, dunia dan akhirat.

Kami memiliki minat dan hobbi yang sama. Karena dia pula, saya berani mengikuti latihan  kepenulisan dalam jaringan (daring), termasuk ikut bersekolah di Sekolah Perempuan.

Ah, ia memang selalu selangkah lebih dahulu. Dan saya sangat bersyukur akan hal itu, karena ia tak pernah sekalipun merasa disaingi. Kami saling mendukung dalam hal apapun.

Semoga impian kami bersahabat hingga ke surga, bergandengan tangan menuju jannah-Nya diijabah oleh Allah Ta’ala.

Tulisan ini sekaligus saya dedikasikan kepada dia sahabat saya,  Ida Sulawati.

Bagikan:

1 Comment

  1. Waaaaah. Sahabat sejak SMP, dipertemukan di IIDN. Salah satu cara untuk ditemukan oleh sahabat yang lama tak bersua adalah dengan membuat akun FB dengan nama lengkap. Sayapun ditemukan oleh beberapa teman lama lewat FB.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *