SURAT UNTUK SAHABAT: Dear ‘La

Dear ‘La

Muara Enim, Medio Juli 2020

Hai ‘La.

Apakah kamu masih mengingatku?

Sahabat putih birumu, yang meski hanya satu tahun bisa mewarnai hari-hari bersama.

Penuh canda, tawa dan juga tangis manja ala anak remaja.

‘La,

apakah ingatanmu tentangku juga sudah setipis embun di pagi hari?

Atau bahkan membias saja sudah tak mampu.

Itu yang aku rasakan saat ini ‘La.

Setiap mendengar atau menyebut kata “Balikpapan”, selalu ada namamu yang mencuat dalam gejolak hatiku.

Dan selalu kucoba hingga detik ini, memeras saraf-saraf di otakku agar bisa menemukan sosok wajahmu kembali dalam ingatanku.

Sosok yang kukenal 25 tahun yang lalu.

Sahabat masa kecilku.

‘La,

bahkan nama panjangmu aku tak lagi ingat. Yang kuingat hanya nama Dewi tersemat di dalamnya.

Dan kenapa kau kupanggil ‘La?

Ah, kalau kamu membaca surat ini, pasti kamu akan tertawa mengingatnya.

Ingatkah saat kamu yang pertama memanggilku dengan panggilan ‘Nis’?

Padahal namaku bukan Anisa.

Lalu akupun membalasnya dengan memanggilmu ‘La. Bukan Dewi atau penggalan namamu yang lain.

MaNis dan GuLa

Gula itu Manis. Manis itu gula.

Dan itulah kita.

Sayang saat itu belum ada istilah alay ya, ‘La.

Persahabatan tulus dua anak menginjak remaja.

‘La,

2 tahun yang lalu aku ke Balikpapan.

Bersama suami dan anak-anakku. Mencoba menyusun kepingan puzzle yang hilang antara kita. Entah kenapa aku begitu merindukanmu.

Menyusuri Gunung Pasir, melewati sekolah tempat kita bertemu.

Melalui jalan Markoni tempat aku tinggal dulu.

Lalu membelah sampai arah rapak dan pasar baru.

Aku lupa rumahmu ada di mana.

Patokanku dulu saat berkunjung ke rumahmu adalah bakso rambutan “RM. Dynasty”. Rumahmu ada di gang kecil didekat situ. Tapi kini sudah tak ada lagi. Balikpapan sudah menjadi kota modern saat ini.

Aku tak bisa menemukanmu.

Hingga akhirnya aku sadar. Tak ada yang abadi di dunia ini. Begitupun dengan ingatanku.

Semua sudah berubah ya ‘La. Dan sebelum semua ingatanku tentangmu musnah, izinkan aku meminta maaf melalui surat ini.

Dear ‘La,

Maafkan aku yang tak sempat berpamitan denganmu 25 tahun yang lalu. Kepindahan tugas ayahku kala itu membuat kami harus cepat berkemas. Padahal aku tahu, kamu saat itu sedang tidak baik-baik saja.

‘La, maafkan aku tak bisa mendampingi hari-hari berat dalam hidupmu. Apakah kau jadi dinikahkan demi menutup hutang ayahmu. Bagaimana kisahmu ‘La? Kau sempat lari ke rumahku. Menangis di kamarku. Aku ingat betul bagian itu ‘La. Lalu tiba-tiba ayahmu datang dengan beberapa preman. Menuding-nuding wajah ayahku. Mengatakan telah menculikmu dan menyembunyikanmu di rumahku ini. Ayahku yang tidak terima dengan perlakuan itu melakukan pembelaan. Hingga keributan terjadi tanpa bisa dielakkan. Tapi semua segera berhenti saat kau berteriak kencang dan tetesan darah mengalir dari nadi tangan kirimu.

Semenjak itu, aku selalu histeris melihat darah, ‘La.

Mungkin itu yang menyebabkan aku tak bisa melahirkan secara normal. Persalinan anak-anakku berlangsung secara caesar dan dibius. Hingga aku tak perlu melihat darah berceceran.

Setiap haid datang, aku langsung lemas dan pingsan.

Anak-anakku sunat, aku tak berani merawatnya.

Terapisku bilang, hanya bertemu denganmulah traumaku akan berangsur menghilang.

‘La, hanya itu yang tersisa tentangmu di memoriku. Padahal aku ingin sekali ingat wajahmu. Wajahmu yang teduh dan cantik.

‘La

Jika suatu saat kau mengingatku, balaslah surat ini. Meski hanya di dalam hati. Katakan kau baik-baik saja ‘La. Katakan jika kehidupanmu bahagia hingga saat ini.

Karena aku percaya:

“Sahabat sejati memiliki ikatan perasaan yang kuat meski terpisah jarak ribuan mil sekalipun.”

Kulipat perlahan surat yang mulai memudar ini.

Dewi, calon menantuku masih terlihat sangat kehilangan sosok ibunya. Untuk itulah sekarang aku berada di sampingnya. Membantunya merapikan beberapa barang peninggalan ibu yang sangat ia cintai, sebelum bulan depan pernikahannya dengan anakku Galih akan dilangsungkan.

Andai ku tau…

Kalau saja waktu bisa diputar, tentu aku akan lebih cepat datang, Nis.

Meminta Galih segera mengajakku datang ke Palembang untuk melamar Dewi putrimu. Agar aku juga bisa lebih cepat bertemu denganmu.

Andai kau tau

Akupun sangat merindukanmu

Aku baik-baik saja, ‘Nis. Aku tak akan pernah bisa melupakanmu. Sahabat masa kecilku.

Sungguh indah jalan Tuhan menyatukan tali persahabatan kita.

Terima kasih, Nis. Telah kau sematkan namaku di nama putrimu, sebagai tanda termanis persahabatan sejati.

Nis, engkaulah sesungguhnya Dewi bagi kami semua. Panggil namaku jika nanti kau tak temukan aku di surga. 

 

Dhika Suhada
Latest posts by Dhika Suhada (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *