Tetangga Rasa Saudara

Tetangga rasa saudara. Baru saja saya baca status teman tentang kepergian tetangganya yang sudah dianggap saudara. Pergi selama-lamanya, menghadap Sang Kuasa.

Teman saya itu juga bagi saya adalah tetangga rasa saudara, walau kini jauh terjarak berkota-kota. Bukan cuma dirinya seorang saja. Saya punya banyak tetangga rasa saudara. Kini sebagian dari kami terpisah jarak, tetapi masih bisa saling menyapa lewat media sosial.
Persaudaraan kami dimulai dari satu kompleks rumah petak yang asri di seputaran Bintaro, Tangerang Selatan, yang diberi nama ‘Panorama’
Hampir 12 tahun saya kenal mereka. Kami tetanggaan di rumah kontrakan itu. Ada 12 rumah petak di sana dengan halaman yang cukup luas dan sebatang pohon jengkol berdiri di tengahnya.
Cukup luas itu bagi rumah petak artinya lebih dari cukup. Kami bisa punya tempat untuk menggelar jemuran, eh memajang jemuran di sana. Bukan di depan rumah.
Kami juga punya tempat untuk ngobrol yang relatif sejuk di bawah pohon jengkol itu.
Pokoknya rumah kontrakan itu luar biasa bust pemula seperti saya yang baru memulai rumah tangga.
Membayangkan tinggal di sana saja belum bisa, sampai tidak terbayang gambaran buruk rumah petak.
Kata suami saya, waktu itu, “Kamu harus siap. Rumahnya kecil, berdempetan  jemur baju di depan rumah, mungkin tetangga kita ada yang jorok.”
Buat saya, sih ga apa. Saya malah membayangkan serunya pengantin baru di rumah yang kecil. Senggolan melulu. Dasar pengantin baru!
Ternyata rumah petak itu kecil betul, tapi itu sudah cukup buat kami. Sebab kami punya tetangga yang ramah, bersahabat dan selalu saling membantu. Gambaran orang ibukota yang cuek tidak muncul di sana.
Di kontrakan itu kami punya ‘Bu RT’. Beliau dituakan di sana walau sebetulnya bukan yang tertua.
Bu RT ini sosok ibu rumah tangga yang supel, ramah dan mau direpoti tetangga. Orangnya mandiri dan sangat percaya diri.
Asli Jakarta, tepatnya Kebayoran Lama. Punya darah Jawa, dari Banyumas, Jawa Tengah. Suaminya asli Bantul, DIY. Anaknya tiga orang. Dua laki-laki dan satu perempuan.
Saat saya pertama pindah ke rumah petak, beliau juga yang menyapa duluan. Lama-kelamaan kami makin dekat secara batin, sampai masalah resep masakan saja saya berkonsultasi kepada beliau. Jamgan ditanya berapa kali saya merepotkan beliau dengan urusan anak, hehe… Anak sulung saya dulu pun lengket sama Bu RT.
Bukan cuma Bu RT, tetangga kami yang lain juga tidak kalah hebat. Saya pernah ‘menitipkan anak’ kepada tetangga, pinjam barang, minta nasi untuk menyuapi si sulung yang masih bayi.
Kami juga saling membantu angkat jemuran kalau pas hujan turun, urunan air saat pompa air mati seharian. Pokoknya banyak kebersamaan kami, deh.
Pernah juga kami membuat acara masak bersama saat Idul Adha. Sungguh tidak berlebihan kalau disebut tetangga rasa saudara.
Namun, namanya juga rumah kontrakan, satu per satu dari kami mulai pergi. Sebagian dari kami pindah karena sudah punya rumah sendiri. Sedih, dong, tapi ya harus disyukuri karena itu berarti ada peningkatan.
Setelah dua tahun tinggal di sana, saya sekeluarga akhirnya juga pindah. Ke sebuah perumahan di Kota Tangerang.
Berpisah dengan tetangga rasa saudara itu berat. Rasa kangen selalu ada. Terlebih di rumah baru itu saya relatif tak punya teman karena tetangga sibuk semua.
Sampai akhirnya kami harus pindah ke Madiun karena suami saya diminta keluarganya untuk membantu bisnis keluarga. Di saat itulah tiba-tiba rombongan tetangga dari rumah petak datang, mengucapkan selamat pindah rumah yang juga artinya selamat berpisah. Hiks…sedihnya.
Sungguh sangat berharga persahabatan itu. Meskipun kami tak ada hubungan kekerabatan, tapi kedekatan karena merasa pernah senasib itu mengikat hati kami.
Di awal tahun 2020, tiba-tiba saya mendapat panggilan video lewat Whats App. Ternyata Keluarga Besar Panorama sedang berkumpul di rumah salah satu anggotanya.
Rupanya Bu RT sekali lagi berhasil menggerakkan anggota tim untuk berkumpul. Sudah beberapa kali mereka bikin acara bersama, sekadar ngerujak bareng di rumah salah satu anggota.
Wah, senang sekali rasanya. Kami bertatap muka lewat ponsel, menanyakan kabar masing-masing, menghitung jumlah anak kami saat ini dan berharap bisa berkunjung ke Madiun.
Rasanya kalau nanti kami sekeluarga bisa ke Jakarta, kami sangat ingin mengunjungi tetangga rasa saudara kami itu.
Diah Dwi Arti
Latest posts by Diah Dwi Arti (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *