Sahabat Separuh Jiwa

Aku mengenalnya ketika usiaku 19 tahun. Tiba-tiba dia memperkenalkan diri sebagai teman putri induk semangku. Waktu itu aku baru datang dari Jakarta untuk kuliah di Bandung, dan kos di rumah teman ayahku. Sebagai orang baru dan tidak tahu apa-apa tentang Bandung, kehadiran seseorang yang menyapa ramah, tentu saja membuka hatiku.
Aku memang tak mudah berteman. Biasanya mengamati terlebih dahulu situasi.

Di antara teman-teman SMA, aku dikenal pendiam.
Sahabat teman sebangku selama aku SMA, memilih kuliah di kota Bogor. Sehingga praktis aku kehilangan teman berbagi cerita.
Waktu itu belum ada media komunikasi seperti sekarang, misalnya WhatsApp, Facebook, dan sarana media sosial lainnya.
Satu-satunya sarana saling bertegur sapa jarak jauh adalah melalui surat.

Merantau di kota lain, kuliah, dan berteman dengan teman baru umumnya karena keperluan studi saja. Kami jalan bareng, survei, dan kuliah lapangan, meluaskan wawasan tentang berteman. Berteman antara perempuan dan laki-laki, karena kebetulan aku sekolah di perguruan tinggi teknik, yang mayoritas laki-laki.

Dari sekian banyak berteman, hanya satu dua yang akhirnya menjadi sahabat. Aku bisa curhat tentang banyak hal. Kebetulan aku mendapatkan sahabat yang mempunyai hobi sama, menjahit. Sehingga aku dan dia sering sharing teknik-teknik menjahit.
Bagaimana bisa, aku yang ngekos masih bisa menjahit juga?
Kebetulan ibu kos mempunyai mesin jahit dan sering menjahit untuk putri-putrinya.
Jadi sesekali, di sela-sela kesibukan membuat tugas, aku numpang ikut menjahit memakai mesin jahit ibu kos.

Lucunya, sahabat pertamaku di kota Bandung, di awal kisah ini, masih tetap setia berteman. Tanpa sungkan sering mengantarku ke toko kain, mencari benang, bahkan menemani makan nangka goreng. Jajanan hips di Bandung waktu itu.
Kadang aku naik angkutan umum ke pusat kota, jalan-jalan sendirian, kemudian janjian untuk dijemput di suatu tempat. Aku memang hobi jalan-jalan sendirian, just strolling around, atau cuci mata kalau ke pusat perbelanjaan.

Tahun berganti tahun, satu demi satu sahabat-sabahatku di masa kuliah, menikah, dan mempunyai kehidupan masing-masing. Beberapa malah aku kehilangan jejak, hingga puluhan tahun kemudian berjumpa melalui media sosial.
Tetapi sahabatku yang satu ini tetap setia menemani.
Kami biasa berkeluh-kesah satu sama lain. Saling memberi dukungan bila salah satu drop.
Serunya lagi, sahabatku ini bisa menjaga rahasia.
Aku bisa nyinyir apa saja, aman, tak akan bocor kemana-mana.
Selain aku jarang nyinyir, takut juga bila cerita-cerita ke orang lain, akan diceritakan lagi ke orang lain lagi. Seperti pesan berantai jadinya.

Sahabat sejati memang bisa menerima kita apa adanya. Membantu dikala duka, turut bergembira dikala suka. Selalu ada kala dibutuhkan. Dia juga tak ragu menceritakan masalah-masalahnya padaku, sehingga sebisanya aku memberi solusi.
Almarhum Ibuku selalu mendoakan agar kami rukun selalu.
Lho, memang dia siapa?
Iya, sahabat sejatiku, suamiku, sahabat separuh jiwa.

Handayani Widiatmoko
Latest posts by Handayani Widiatmoko (see all)
Bagikan:

4 Comments

  1. Aku scroll lagi bacanya ke atas, Bu Hani.

    Ternyata, pak suami sudah jatuh cinta sejak pandangan pertama ya šŸ˜

    So sweet

    1. Iyayah. Pantes stalking terus. Wekekek…Makasih udah mampir

  2. Dawiah Dawiah

    Ini sih namanya sahabt sehidup semati. Langgeng terus ya mbak dengan sahabat separuh jiwanya.

    1. Iya Bun. Sama-sama ya…Semoga langgeng terus juga sama Ayangnya…hehe…

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *