Mencari Kebahagiaan Bagi IRT

Bahagia Menjadi IRT Meski di Rumah

 

Jika bicara tentang merdeka, banyak hal yang ingin saya ungkapkan. Apalagi menjadi seorang ibu rumah tangga yang sebagian besar waktunya berkutat di rumah. Tidak dipungkiri bahwa terkadang seorang istri yang hanya di rumah, tidak bekerja seperti wanita lainnya, pasti akan menjadi bahan pembicaraan.

Seperti halnya saya, yang mana oleh suami tidak diperbolehkan bekerja di luar rumah. Seperti kerja jadi buruh di kebun kelapa sawit, kerja di toko-toko, maupun tempat lain yang mana mengharuskan keluar dari rumah.

Apakah saya tidak bosan?
Tentu saja bosan. Dulu, setelah tamat SMA hingga menjelang menikah (kira-kira tujuh tahun), saya kerja di tanah rantau. Alih-alih ingin membahagiakan orang tua dan kelima adik yang masih sekolah, saya rela mengadu nasib menjadi TKI di Malaysia selama dua tahun, lalu merantau lagi di Batam selama lima tahun.

Bahagia?

Tentu. Kebahagiaan karena mendapat kesempatan untuk belajar mandiri, bebas mencari pengalaman serta bisa berkontribusi untuk keluarga. Meskipun, saya harus ikhlas melepas impian yang sempat membara, yaitu melanjutkan sekolah hingga perguruan tinggi.

Awalnya, saya mengira nanti saat bekerja bisa mengumpulkan dana untuk biaya sekolah. Tahun demi tahun terlewati, angka usia pun semakin bertambah. Kebutuhan rumah tak ada hentinya. Sementara tabungan tak kunjung terkumpul.
Saya sempat menangis. Begitu sulitkah bagi saya untuk mewujudkan mimpi? Hingga apa pun yang saya inginkan tak pernah menjelma nyata. Sejak masih ikut orang tua maupun setelah melanglang buana. Hidup saya hanya seolah menuruti mereka.

Terlebih Bapak yang sama sekali tak mendukung impian ini. Saya bagaikan mesin yang hanya untuk menciptakan uang dan uang. Di situ, saya sangat sedih karena merasa tidak bisa menentukan keputusan hidup. Hingga merasa saya perlu mengakhiri semuanya. Ya, saya ingin meninggalkan dunia selama-lamanya.

Tapi, naluri seolah berbisik. Bahwa saya tidak boleh menyerah dengan semua ini. Saya harus kuat dan terus menyalakan mimpi itu dalam angan.

Akhirnya, saya masih bertahan hingga sekarang. Meski usia tak lagi muda, tapi semangat belajar masih membara. Saya sangat bersyukur dianugerahi jodoh yang berbaik hati. Mengerti keinginan saya untuk terus menuntut ilmu walau hanya di rumah. Malahan, saya seperti mendapat peluang lebih banyak.
Meskipun tinggal di tempat yang jauh dari keramaian, toko buku, komunitas, bahkan acara-acara yang mendukung literasi … saya masih bisa berkomunikasi dengan teman seperjuangan di luar sana. Teman yang saling mensupport untuk terus belajar mengasah kemampuan. Yang mungkin tidak saya dapatkan di lingkungan sekitar.

Menulis … adalah salah satu cara untuk memerdekakan pikiran saya. Banyak hal yang terkadang sulit untuk diungkapkan. Pun tak semua orang bisa mengerti uneg-uneg kita bila diceritakan. Oleh sebab itu, saya lebih senang menuangkannya dalam aksara.

Terlebih di masa pandemi seperti ini. Ragu, takut, cemas, dan khawatir … semua menyatu. Antara harus berdiam di rumah, atau keluar demi mencari nafkah. Ini adalah pilihan yang sulit, bukan?
Lantas, bagaimana dengan saya yang hanya di rumah? Sesuatu hal yang dulunya tak pantas. Karena menurut mereka, istri sebaiknya bekerja.

Baiklah. Saya hadapi dengan senyuman. Jika menuruti kata orang, tentu tak ada habisnya. Bagi saya, selama suami rida akan istrinya, di situlah kebahagiaan berumah tangga. Tentu, meski hanya di rumah, usaha tak boleh menyerah.

Banyak hal yang bisa kita lakukan. Misal mengirim tulisan ke media atau penerbit, berjualan online … itu saja cukup membantu. Yang penting berusaha. Bagaimana hasilnya, kita serahkan pada Yang Maha Kuasa.

Semangat bahagiašŸ˜Š

Lila Sulis
Latest posts by Lila Sulis (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *