MERYNEM DAN CORONA

Ada sebuah kampung di kabupaten paling pinggir wilayah Jawa Timur, tepatnya juga letaknya di pinggiran, orang-orang menyebutnya dengan sebutan Kampung Jamu, mungkin karena sebagian besar  warganya penjual jamu gendong atau naik sepedah atau pakai gerobak…..tapi yo panggah jualan jamu.

Seperti daerah lain, ketika ada ontran-ontran virus Corona merebak, sempat heboh. Namun, dengan kesadaran penuh sebagai masyarakat langsung berinisiatif melakukan apa saja  yang mereka bisa lakukan sebagai sikap sami’na watho’na kepada pemerintah. Mulai menyiapkan tempat cuci tangan di depan rumah masing-masing, meski sederhana, dengan apa yang mereka punya. Dari gentong, timba, hingga tempat padasan dengan sabunnya.  Ketika ada gerakan sterilisasi, disinfektan wilayah, dengan guyub urunan semampunya untuk membeli obat disinfektan. Tidak kurang akal, mereka menggunakan semprotan pupuk yang biasa mereka gunakan untuk di sawah, hebat to mereka. Mereka semprot mushola, kemudian TPA dan akhirnya bisa merata kepada rumah-rumah warga semua. Biar terbebas dari virus, pikir mereka polos.

Ketika banyak pedagang kebingungan order sepi, kampung jamu sebaliknya. Permintaan racikan yang dipercaya sebagai penguat “imun tubuh, penangkal corona” yang terdiri dari temulawak, jahe, kunyit, kencur  laris manis. Alhamdulillah, kata mereka. Jualan jamu jalan terus dan badan sehat waras bragas.

Dengan kesadaran penuh, mereka menghentikan sementara kegiatan-kegiatan yasinan, tahlilan dan genduren ataupun slametan. Alhamdulillah lagi, pemilik warkop dengan sadar bersedia menutup tempat usahanya. Masyarakatnya sadar sepenuhnya bahwa virus corona ini harus ditanggulangi bersama-sama, pancen top kampung ini. Sebenarnya, kampung jamu bisa guyub seperti itu ya, memang berkat kerjasama semua warga, namun sebenarnya ada sosok penggerak di kampung itu yang dapat dianggap aktor motivator kegiatan di kampung jamu.

Nama aslinya MARINEM, tapi karena lama jadi TKW di Singapura (kabarnya hampir lima tahun jadi TKW) oleh majikannya diganti MERYNEM dengan panggilan mbak Mery, dan sekarang selalu memperkenal kan diri dengan panggilan Mery. Ono-ono mawon ben diarani wong kutho. Agak senewen jika ada yang memanggil Mar, apalagi dipanggil Inem, bisa mlengos dia. Mbak Mer atau Mery begitu dia biasa disapa.

Tiga tahun yang lalu dia pulang dari Singapura dan ingin mengakhiri sebagai TKW, selain ingin merawat simboknya yang sudah sepuh, dia juga ingin menjadi bos untuk dirinya sendiri. Selalu begitu, jika Mery ditanya kenapa berhenti jadi TKW. Padahal, juragannya disana itu baik dan gajinya gede. Mery memegang peribahasa lama, seenak enaknya hujan emas dinegeri orang masih enak hujan batu di negeri sendiri  (temen to Mer). Selain itu, dia ingin meneruskan jualan jamu produk simboknya. Mery sudah mulai ahli untuk meracik jamu-jamu yang dia jual keliling, ini yang membedakan dengan penjual jamu yang lain, Mery sudah menggunakan media on line, dipasarkan dengan WA,  facebook, maupun IG dengan merk “JAMU MERY”. Mery termasuk pecinta medsos.  Lumayan juga, tokoh kita ini.

Sebagai bukti dia menyayangi kampungnya, Mery sangat aktif mengikuti kegiatan yang ada dikampungnya, malahan sudah dua tahun terakhir ini Mery tercatat sebagai Kader di bidang Kesehatan sebagai binaan Puskesmas dan mitra kerja Bidan di desanya, ndak maen-maen tokoh kita ini.  Hampir semua kegiatan mbak Mery dilibatkan, selain PD nya tinggi, kemampuan berbicara dan bahasa inggrisnya itu lho sering dimintai bantuan jika ada istilah-istilah yang ndak dimengerti. Semangatnya untuk membantu sesama (enthengan), menjadikan dia cepat dikenal dan bawaannya yang supel menjadikan dia juga sering ditimbali Pak Lurah untuk membantu kegiatan di desa.  Ketika dulu musim Pilkada, Mery lah yang kepyoh agar orang-orang sekampung tidak ada yang golput. Bagusnya, Mery tidak mau menjadi timses galongan manapun.

Kali ini, peranan Mery saat mulai ada ontran-ontran Virus Corona sangat terasa di kampung itu, meskipun hanya lulusan SMP tapi karena kemampuan dia membuka gadget untuk mencari info dan pengalaman selama di Singapura menjadikan dia sering menjadi nara sumber ndak resmi bagi warga sekitar. Mery lah yang ngoprak-ngoprak hingga hampir seluruh warga  kampung memiliki padasan untuk cuci tangan di depan rumah. Mery akan fasih menerangkan bagaimana Corona menular, bagaimana diperlukan pemutusan rantai penularan. Masio,kadang-kadang “kemeruh”.  Hhmm….harap maklum. Tidak jarang Mery keliling ke rumah-rumah warga menanyakan apakah ada yang memilki gejala-gejala seperti yang diterangkan bu bidan. Salut untuk tokoh kita ini.

 

Alhamdulillah, hingga hari kesebelas setelah ontran-ontran. Suasana aman dan belum ada warga yang tercatat sebagai ODP apalagi PDP di kampung Jamu, hampir semua warga menggunakan masker, yang jualan jamu keliling juga. Disiplin dan manut. Yang ndak punya masker akan dibagi oleh Mery.  Mery lagi….Mery lagi

 

 

Hingga pada suatu pagi

 

Tampak perempuan masuk ke halaman rumah pak RT dengan tergopoh-gopoh.

“Assalamu’alaikum”

Diikuti ketukan pintu dengan kerasnya…..tok…tok….

“Buk, ibuke. Pak RT mana ”

Terdengar langkah kaki bergegas menuju pintu. Tergopoh-gopoh bu RT berjalan ke ruang depan dengan tangan masih basah, baru selesai cuci piring. Sambil ngelap tangan ke dasternya, membuka pintu.

“ Woo kamu to Mar”

Melihat raut muka yang menampakkan tidak suka ketika dipanggil Mar, bu RT langsung meralatnya,

“Eh, kamu Mer. Ini masih pagi, ada apa. Pak RT masih tidur, wong tadi malam pulang patroli dengan Pak Babinsa sudah larut, abis sholat subuh sare lagi. Ada apa to Mer, kok kelihatan panik ” jawab bu RT sambil mempersilahkan duduk.

“ Ini bu RT, tetap masalah yang sama ,  virus corona virus corona buk e, gawat”

Nopo to, lha yo wis ngerti. Kita semua warga sudah berusaha antsipasi ” sahut Bu RT

Wadhuuh ” saut Mery sambil memegangi jidat dan menampakkan wajah panik.

“Teruus ” masih dengan sikap tenang, sambil kembali melap tangan dengan dasternya..

“Subuh tadi, Pak Bowo beserta keluarganya, itu lho anaknya Eyang Sastro yang tinggal di Jakarta datang ke kampung kita, mudik. Waduh piye buk e ” nyerocos Mery.

“Padahal sesuai himbauan pemerintah mereka-mereka yang tinggal di daerah Zona merah, seperti : Jakarte, Bandung, Jawa Barat  endi eneh, kan ndak boleh mudik to. Bisa membahayakan keluarga di kampung bisa-bisa membahayakan jiwa sekampung buk e. Apalagi Eyang Sastro itu sudah sepuh. Beliau itu kan termasuk orang yang beresiko tinggi terkena Virus Covid nineteen seharusnya kita semua melakukan Physical Distancing ” lanjutnya.

Hhmmm, yo pancen  lulusan TKW Singapura jadi soal bahasa Inggris, Mer cas cis cus  (pikir bu RT). Mesam mesem bu RT mendengarkan keterangan Mer.

“Mer, gini saja secara protokoler kamu tahu harus lapor kemana. Lapor ke RT, ini nanti ibu laporkan ke bapak. Nah, kamu sampaikan ke group penanggulangan  Corona Desa. Kamu punya nomernya bu bidan to. Nanti bu bidan dan pak Babin yang menangani ” bu RT menjelaskan dengan tenang. Sengaja dia gunakan istilah protokoler, biar ndak kalah keren dengan si Mer.

“Iya buk e” mantuk-mantuk Mer mulai tenang.

“Kamu sudah ngopi belum ” tanya bu RT.

“Hehe belum buk e, tapi saya ndak ngopi. Tea  saja..” sambil nunduk malu.

“Tunggu yo” terus bu RT menuju dapur.

Sambil membuat teh, bu RT tersenyum sendiri. Barangkali kalo ndak ada Mery, kampung jamu ndak akan seperti ini. Apapun kondisinya, banyak kontribusi yang sudah dilakukan untuk kampung ini.

“Ini teh anget  terus ini buk e punya singkong  goreng sedikit” Bu RT mempersilakan Mery.

Sambil nyruput teh anget, terus nyerocos lagi.

“ Saya ndak tega buk e liat situasi saat ini. Kang Beno, tukang ojek online itu lho buk e, sambat sepi penumpang. Pendapatannya nurun drastis, orang-orang pada takut pergi-pergi. Susah bagaimana mau bayar cicilan motor. Belum lagi anaknya masih kecil-kecil. Buk e pirsa  ndak, istri kang Beno hamil anak ketiga ” menerawang Mery menunjukkan empaty tapi tidak bisa berbuat apa-apa.

“Lha mau gimana lagi to Mer, sabar saja. Demi kehidupan orang banyak, kita harus memutuskan penyebaran virus corona”

“Kita harus manut kebijakan pemerintah ya bu.  Gusti Allah semoga Indonesia gek ndang bisa kembali menjadi negara makmur sentosa loh jinawi semua rakyat e kembali sehat dan bisa beraktivitas nggih buk ”  Mer berucap sambil menegadahkan tangan sikap berdoa.

Aamiin ya Robbal Alamin.” Terharu bu RT dengan sikap Mer, sikap rakyat jelata yang sangat berharap segera berakhir badai ini dan kembali ke kehidupan normal seperti semula.

“Buk e, tahu ndak. Bu Wiji yang biasa jualan nasi pecel di kantin sekolahan, karena sekolah libur tapi tetep butuh duit, sekarang jualan di ujung gang sebelah mushola. Katanya, memang ya sepi, tapi daripada tidak ada pemasukan sama sekali. Kasian ya buk e”

Baru bu RT mau menyaut, Mer sudah meneruskan lagi, seakan tidak butuh komentar dari Bu RT.

“Buk e, sudah ngerti to WFH, singkatan dari Work From Home artinya bekerja dari rumah buk e. Jadi pekerjaan-pekerjaan di kantor dikerjakan di rumah. Itu seperti Mas Bambang sama Mbak Sari. Mereka ASN, kata bos e tapi harus di rumah terus, karena sewaktu waktu akan dipanggil ke kantor” sok tahu si Mer.

“Asem, dikira aku ndak ngerti apa-apa” pikir bu RT.

Tapi, Merynem kok dilawan. Sambil garuk2 tangan yang ndak gatal. Seperti sebelumnya, tanpa menunggu komentar terus saja bicara.

“Belum lagi itu buk e, Lia, Ruri, Lina, Agus, Joko dan yang lain, sekarang pada thenguk thenguk di rumah karena café tempat bekerja atau  toko tempat mereka bekerja lagi di lock, ditutup untuk sementara ”

“Weh, mereka-mereka itu juga masuk ODP “

“Lha kok ODP piye to Mer” saut bu RT dengan muka kaget.

“ODP alias….Ora Duwe Pendapatan “ saut Mer sambil senyum-senyum. Sambil terus bicara

“Lha iyo to buk e, tidak banyak yang diminta pemerintah. Tolonglah, sementara berdiam diri di dalam rumah, tidak pergi, tidak piknik, tidak kumpul2. Jika ada yang  merasa sakit, jangan keluar rumah. Sering2 cuci tangan pakai sabun. Trus opo itu buk e, isolasi diri 14 hari jika merasa perlu, dan sesuai arahan pihak terkait.  Demi bangsa dan negara ini, kapan lagi kita bisa menujukkan bakti dan sumbangsih kepada negara tercinta ini ” Sambil nyruput wedang teh, Merinem menerawang, entah apa yang dipikirkan.

“Eee……lha kok mbeneh bocah iki” pikir bu RT dalam hati.

“Lha terus rencanamu hari ini apa Mer” lanjut bu RT.

“Gini buk e, saya akan telp bu Bidan dan pak Babin, mohon arahan untuk pencegahan preventif keluarga Eyang Sastro. Saya akan mulai mendata siapa saja yang telah datang dari Jakarta. Selanjutnya, biar beliau-beliau yang kompeten yang mengurusnya. Lha wong saya ini kan cuma kader yang ditugasi membantu di lapangan,  malah salah ngomong nanti. Wong beliau-beliau yang datang itu orang terpelajar tur kaya  lho buk e” berhenti sejenak sambil meneruskan mengunyah singkong goreng.

Enaaaak buk e,medhuk” sambil nyengir

Hanya geleng-geleng kepala sambil senyum senyum bu RT.

“Saya pamit dulu ya, mau neruskan lakon

“Wuh iyo buk e, ini jamu racikan anti corona untuk njenengan sama bapak e. Saya racik sendiri, tanpa obat gula,  pakai gula aren pakai asem jawa pakai airnya mateng, wis pokok e joss buk e. Biar Pak e sama Buk e sehat bisa ngurus masyarakat ”

“Dasar bakul jamu kamu itu Mer” kata bu RT sambil menerima jamu spesial anti corona sebotol besar.

“Makasih yo nduk, mugo2 dadi ngamalmu

Bu RT kembali menutup pintu.

Sopo Bu” tanya pak Baskoro sambil keluar dari kamar.

“Mery pak, memberi laporan kalo anak Eyang Sastro pagi tadi datang dari Jakarta, sekeluarga.Terus harus bagaimana, sambil ini ngirim jamu anti corona hehe…”

“Nanti abis sarapan Bapak koordinasi dengan pak Lurah dan Bu Bidan dan Pak Babin bu”

“Mandi dulu bu” kata pak RT sembari masuk kamar mandi

 

 

Beberapa jam kemudian, terlihat beberapa orang mendatangi rumah Eyang Sastro. Kelihatannya ada pengarahan dari pihak berwenang dan mengharapkan seluruh orang yang  tinggal di rumah tersebut menyadari untuk melakukan isolasi diri selama 14 hari, selama tidak ada keluhan. Semua laporan dan interaksi dilakukan via hp saja. Sedangkan Mery ditugasi untuk membantu menyiapkan logistik dan keperluan dari keluarga eyang Sastro. Dan jika ada keluhan agar sesegera mungkin melapor. Dengan catatan tetap seminimal mungkin mengadakan kontak fisik. Semoga semuanya baik-baik saja…….

 

 

 

 

 

Ini memasuki hari ke empat belas ontran-ontran virus corona.

 

Kembali pagi itu, rumah Pak RT kedatangan tamu.

Tok…..tok…..

“Assalamualaikum ”

“Kula nuwun bu Baskoro”

Terdengar langkah kaki dari dalam dengan bergegas.

Wa’alaikum salam, lho Juminten, ada apa Jum”sahut bu RT.

“Masuk yuk ”

“Ndak usah bu RT, ini gawat bu RT. Bener-bener gawat. Disini saja”

“Sudah saya perhatikan dengan seksama bu, sejak kasus datangnya keluarga Eyang Sastro itu, Mery ndak pernah kelihatan keluar rumah. Ndak jualan jamu, hp nya  dihubungi ndak bisa, ini sudah hari keempat bu, si Marinem ndak keluar rumah. Jangan-jangan dia sudah terpapar virus corona bu”

“Memang anak itu kebanyakan gaya, sok tahu, sok keminter, coba kalo dia betul-betul sakit corona, kan bisa membahayakan orang-orang disekitar kita to bu” omel Juminten

“ Iya, ya kok lama ndak kelihatan si Mery” tapi bu RT mbatin, semua sudah tahu kalo dasarnya si Juminten ini iri dengan tindakan Mery. Sehingga isinya negatif terus tentang Mery.

“Nanti saya coba tanyakan ya Jum ”

“Jangan nanti bu, mari kita sekarang ke rumah si keminter itu, kita harus tanya siapa tahu dia sudah terpapar virus corona”jawab Juminten sambil emosi.

“Yo wis, semakin cepat kita tahu semakin cepat bisa kita tolong ya Jum ”

Byuh..Saya ganti daster dulu ya ”

 

Dengan berjalan tergopoh-gopoh mereka berjalan cepat hendak ke rumah Mery, dijalan ketemu dengan Sumini.

“Jum, mau kemana kok buru-buru” tanya Sumini.

“Ini mau liat si Marinem sudah terpapar virus Corona “ jawab Juminten dengan pongah.

Begitu tak terasa hingga barisan ini semakin memanjang. Ada hampir sepuluh orang telah terprovokasi Juminten, ada Sumini, Martun, lek Parinem, mbokde Bejo, Lek Tun, Pakde Karto, Lek Muji dan banyak lagi. Marinem terpapar virus corona itu kabar yang berhembus.

Astaghfirullah hal adzim, ini lha kok jadi buuuanyak orang ki piye to” bu RT tidak bisa berbuat banyak. Selain meneruskan langkah.

Sampailah depan rumah Marinem.

Dari luar kelihatan sepi dan kelihatan halaman rumah sudah tidak disapu beberapa hari.

Wah, gawat ini. Pikir bu RT.

“Sudah,  semua tunggu disini, biar saya yang  bicara dengan Mery” kata bu RT tegas.

“Bu RT jaga jarak ya” pesan mereka bersahutan.

Agak jauh dari pintu masuk, bu RT sudah mengucapkan salam

“Assalamu’alaikum, Mer Mery ”

“kamu sakit yo nduk, kamu kenapa” tanya bu RT tetep dengan sabar.

Akhirnya

Ceklek, pintu terbuka.

Mery keluar dengan wajah pucat kucel, pakai jaket tebal, dan rambut acak-acakan, sambil membawa handuk kecil. Dan di pipi dan jidatnya ada koyo.

“Hah, kamu kenapa. Kamu kena corona ya, terus sudah periksa, saya ndak berani ndekat” sahut sahutan semua yang hadir.

“Saya, Alhamdulillah tidak terpapar corona. Waktu kemarin abis diutus belanja keperluan keluarga Eyang Sastro saya tergiur untuk minum es tebu diujung gang itu habis 2 gelas. Lha…..saya langsung batuk pilek ngikil dan ini ingus terus mengalir. Karena saya ndak jaga tubuh, barengan gigi saya yang bolong kambuh, ya Allah  nyut-nyut ndak karuan. Kok ya barengan saya mencret-mencret karena saya makan bakso sambelnya kebanyakan. Jadi lengkaplah bu” jelas Mery dengan muka senyum-senyum kecut.

 

 

“Saya sudah konsultasi terus dengan bu Bidan, disuruh istirahat. Ndak boleh keluar rumah. Saya sudah dikirimi obat sama bu bidan. Hampir tiap dua jam saya liat temperatur tubuh saya kok, kata bu bidan normal-normal saja. Tinggal sakit giginya, nanti kalo sudah ndak nyut nyutan baru boleh dibawa ke puskesmas.  Bagaimana bu RT, salah saya apa”lanjut Mery dengan melas.

“Lha kamu tak telp kok hp mu ndak nyaut Mar ”saut Juminten dengan sengit.

“Mosok mbak Jum. Paling samen kliru nomor yang lama, lha ini lho saya laporan terus kondisi saya dengan bu Bidan”

Lheh, piye to Juminten iki. Peh, hoaks tibane”hampir barengan semua menggerutu ke Juminten sambil membubarkan diri.

“Yo wis, lek kowe sehat. Alhamdulillah, pulang kalo gitu. Yo sorry” saut Juminten sambil  beranjak pergi pulang.

“Mbak Jum, ndak mampir pinarak dulu to” goda Mery

“Sudik” jawab Juminten ketus sambil ngeloyor pergi.

 

Bu RT tinggal sendirian dengan Mery.

“Nduk, kamu itu kok bikin deg-degan orang sekampung to. Gek ndang sehat yo

“Warga masih memerlukan bantuanmu, jangan buat panik orang-orang to Mer” kata bu RT.

“Inggih buk e. Mohon maaf nggih”

“Lha kamu kok yo ndak sms aku to” kata bu RT

“Hehe saya ndak punya pulsa ogh buk e” saut Mery malu malu.

“Gomballl Mer.. Mer…..”

“Sudah istirahat biar batuk pileknya cepet sembuh, gigi bolong kok di piara..”

Assalamu’alaikum,  Buk e pulang dulu”

Wa’alaikum salam. Monggo buk e, matur nuwun rawuhipun

 

 

Hingga tulisan ini diturunkan, warga kampung Jamu masih damai damai saja dan Alhamdulillah tidak ada indikasi ODP maupun PDP. Yang ada justru banyak orang telah terpapar ODP dan PDP versi baru, ODP (Ora Duwe Pendapatan) dan PDP (Positip Dadi Pengangguran), ono-ono wae. Semoga semakin banyak Mery Mery yang lain  di negeri ini, rakyat jelata tanpa pamrih membantu sesama. Damai dalam kesederhanaaan, rukun dalam keguyuban.  Semoga badai ini segera berlalu……

Aamiiin ya robbal alamin ❤

 

 

 

 

01 April 2020

Ditulis oleh

Mbokde Lilis Handayani, 56 tahun, orang yang pengin menjadi warga kampung jamu.

Cerita diatas sepenuhnya fiksi. Sebagai apresiasi dan tanggap pada merebaknya virus Corona.

Jika ada kesamaan nama dan yang lain bener-bener kebetulan.   Mohon maaf

 

 

 

 

 

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *