Review Buku tentang persahabatan

Judul: Turning Seventeen

Penulis: Artie Ahmad

Tahun terbit: 2015

Cetakan ke: 1

Penerbit: Elex Media Komputindo

 

“Namaku Keana. Aku baru saja berusia 17 tahun. Dan ini catatan panjang tentang kehidupan remajaku yang mungkin perlu kalian tahu. Aku memiliki empat sahabat. Kami begitu dekat, begitu saling mengenal, namun ternyata memiliki rahasia yang tidak kami ketahui satu sama lain. Rahasia yang membuat aku sadar, usia 17 itu tak hanya berhiaskan tawa dan canda.” (halaman 1)

 

Novel remaja berjilid warna kuning ini menceritakan tentang 5 anak remaja yang bersahabat baik. Mereka adalah Keana, Prila, Zizi, Dirza dan Sekar. Keseharian mereka sama seperti kebanyakan remaja, mulai dari belajar, bimbel, jajan, nongkrong sampai curhat-curhatan.

 

Meski bersahabat dekat, mereka memiliki hobby, cita-cita dan karakter yang berbeda. Perbedaan itulah yang menyatukan mereka.

 

Keana yang bercita-cita menjadi Arsitektur, Prila yang menyukai gunung dan bercita-cita mendaki gunung Merbabu, Zizi yang fashionable hobby hangout, Dirza yang hobby baca novel dan bercita-cita jadi Penulis, dan Sekar yang pintar, cantik, anggun, cenderung pendiam.

 

Kelima sahabat dekat, saking dekatnya merasa tak ada rahasia diantara mereka. Namun pada kenyataannya Keana punya rahasia menyukai saudara kembar Prila, Sekar punya rahasia tentang keberadaan pacarnya, Dirza dengan masalah kedua orang tuanya dan Zizi yang punya teman hangout rahasia yang membuatnya harus berurusan dengan polisi.

 

Selain lima sahabat yang diceritakan, ada juga Prana, saudara kembar Prila. Bima, kakaknya Keana. Dan Dimitri, teman Bima. Tiga tokoh ini menambah keseruan isi novel. Mulai dari cinta segi tiga, cinta back street, sampai cinta ditolak.

 

Dari tiga tokoh inilah, muncul rahasia yang terbuka diakhir cerita. Sampai akhirnya Sekar harus menikah di usia dini, dan Prila meninggal dunia. Adakah hubungan antara keduanya? Semua diceritakan dengan apik dan alur yang mengalir.

 

Membaca novel ini saya merasakan kembali aura remaja dimasa dulu. Dari kisah yang diceritakan, kita bisa mengambil beberapa pelajaran bagaimana bergaul yang baik, dan apa saja yang harus dihindari dalam pergaulan sesama remaja, terutama hubungan  lawan jenis.

 

Meski demikian saya hanya merekomendasikan buku ini untuk usia 17 tahun ke atas. Untuk dibawah usia itu saya khawatir belum bisa mengambil hikmah dari isi novel tersebut.

Warni Sajoo
Latest posts by Warni Sajoo (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *