Apakah Aku Sudah Merdeka?

Umbul-umbul dan bendera merah putih masih berjejer di sepanjang jalan menuju kontrakanku. 17 Agustus memang sudah berlalu. Tapi sepertinya semangat kemerdekaan masih membara, walaupun masih kondisi Pandemi, terlihat dari meriahnya merah putih yang berjejer.

Dan di sini, sambil menghadap jendela, aku sendiri mempertanyakan arti merdeka untukku.

Apakah aku sudah merdeka? Di saat untuk menyediakan makan tiga kali sehari untuk anak-anakku saja terkadang aku tidak mampu. Di saat orang lain terlihat gembira karena sekolah atau kerja dari rumah, justru aku dan keluargaku merana. Suamiku tidak lagi bekerja. Kebijakan belajar jarak jauh membuatnya dirumahkan sementara, dari pekerjaannya sebagai sopir jemputan sekolah. Hasil kerjaku dari buruh mencuci dan menyetrika tidak cukup lagi mencukupi kebutuhan kami sekeluarga.

Kami tidak memiliki banyak pilihan. Ingin sekali jualan online tapi aku tidak punya ilmunya, selain tentunya ponsel dan kuota yang tidak mendukung. Usaha kecil-kecilan dagang makanan pun tidak punya modal. Suamiku beberapa kali terpaksa menolak pekerjaan menyetir ke luar kota karena masih khawatir dengan Virus Corona. Sedikit berharap pada keahliannya sebagai makelar motor, ponsel dan barang apapun. Walaupun tidak tiap hari ada, terkadang hasilnya cukup untuk makan beberapa hari, dan setelahnya kami harus kembali memutar otak untuk menemukan cara memenuhi kebutuhan.

Di manakah kebebasan? Saat anak-anakku yang seharusnya bebas belajar menjadi tak berdaya. Aku bahkan tidak mampu lagi mendukung mereka dengan membelikan kuota. Hanya berharap pada tetangga baik hatiku yang sukarela memberikan password Wifinya. Paling tidak anak-anakku tidak ketinggalan pelajaran melalui daring walaupun dengan ponsel jadul seadanya.

Sudahkah aku merdeka? Di saat tubuh dan jiwaku terkadang tidak mendapatkan haknya. Bahkan aku lebih sering berpuasa. Seandainya saja kalkulator rejeki dimiliki manusia, aku tidak akan pernah berani berhitung. Sungguh tak mungkin rasanya kami masih bisa hidup, makan, menyekolahkan lima anak, dengan penghasilan yang kami punya. Tapi aku masih percaya kekuasaan Allah. Allah, sang Maha Penjamin rejeki tiap makhluknya. Dan aku tidak ingin menyerah. Walaupun kodratku sebagai tulang rusuk sudah beralih menjadi tulang punggung keluarga.

Aku hanya perlu untuk terus berjuang. Saat ini aku mungkin belum bebas, terutama secara finansial dan ekonomi. Tapi setidaknya aku masih bebas mengungkapkan rasa. Rasa syukur yang membuat semua keadaan menjadi lebih baik dan ringan.

Aku berhutang banyak pada Tuhan, yang sudah mengirim tetangga baik hati sebagai penolong. Dengan kepiawaiannya, beliau selalu bisa mengorek cerita tentang kondisi keluargaku. Bahkan tanpa sadar aku sering berkeluh kesah padanya. Tidak jarang aku harus menebalkan muka untuk meminta pekerjaan atau meminjam uang. Sudah tak terhitung lagi bantuannya. Kadang aku berfikir beliau sungguh mulia, membantuku dengan tidak membuatku merasa rendah. Uang yang diberikan saat meminta bantuan membersihkan rumahnya saja kadang cukup untuk makan berhari-hari. Pekerjaan remeh seringkali dibayarnya dengan upah yang tidak masuk akal. Sungguh, nikmat Gusti yang mana lagi yang harus aku dustakan?

Aku juga masih diberi kebebasan untuk berdoa. Satu-satunya komunikasi secara langsung dengan Sang Pencipta, bahkan tidak memerlukan pulsa ataupun kuota. Hanya dengan bersujud, berbisik dan meminta sepenuh jiwa. Di setiap sepertiga malamku, aku bebas meminta. Tidak ada yang merebut kebebasan itu. Terkadang justru diri ini sendiri yang membatasi.

Aku juga bebas untuk merasa bahagia. Karena bahagia ada di rasa, hak setiap manusia bukan hanya untuk mereka yang punya. Aku percaya, bahwa keadaan sekarang sudah pasti yang terbaik menurut-Nya. Bila saat ini doa-doaku belum dikabulkan, pasti Tuhan punya cara untuk memberikannya di waktu yang tepat, suatu saat nanti. Atau bahkan menggantinya dengan hal baik yang mungkin saat ini belum aku rasa. Semoga.

Widya Ningsih
Latest posts by Widya Ningsih (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *