Sahabat kecil

Sahabat kecil.

 

Oleh : Yunita Soekandar.

 

Sejak umur 3th aku sudah punya seorang sahabat. Sahabatku ini seorang laki-laki. Rumahku berdampingan jadi keluargaku sangat akrab. Setiap pagi dan sore hari aku selalu bermain bersama di halaman rumah. Kalau aku tak keluar rumah, sahabatku itu akan menghampiri dan memanggil-manggil namaku dengan suara cadelnya..

“Ta, apek heluk ilik yukk!” (Ta, metik jeruk kecil yukk)

Dengan hati riang akupun segera keluar dan berlari ke halaman diiringi sahabatku. Kami bisa seharian bermain, terkadang sambil disuapi oleh ibuku atau ibu sahabatku. Jika ibuku pergi sudah pasti aku dititipkan dirumah sahabatku. Bagiku sama saja, karena keluarga sahabatkupun sangat menyayangiku, begitu juga sebaliknya. Namun sayang, persahabatan itu hanya berlanjut sampai aku berumur 5th. Karena keluargaku harus pindah rumah, kamipun berpisah. Begitu cerita ibuku.

 

Bertahun-tahun tak bertemu dan mendengar kabarnya, tanpa disengaja kami dipertemukan saat berseragam putih abu-abu. Aku tidak pernah membayangkan, awalnya kulihat namanya sangat mirip. Setelah kutanya ternyata benar dia sahabat kecilku, tentu saja kami sangat bahagia dan saling bercerita kabar dan keadaan kami, sambil sesekali mengenang masa kecil dulu. Satu kelas dengan sahabat kecil adalah hal terindah dalam hidupku. Meski baru bertemu, kami bisa langsung seperti saudara sendiri. Terkadang kami mengerjakan tugas kelompok bersama, bermain ke tempat teman dan duduk sebangku. Hari-hari kami lalui penuh suka duka. Kalau aku tak bisa mengerjakan tugas sekolah dengan telaten langsung mengajariku.

Kamipun akrab sebagai sahabat yang sudah beranjak dewasa. Banyak teman-teman yang mengira kami saling suka, padahal kami hanya bersahabat. Meski orangnya tergolong pendiam, tapi dia sangat baik dan pengertian. Jadi selama kami bersahabat belum pernah ada pertengkaran sedikitpun.

 

Setelah lulus sekolah, kami berpisah lagi. Sekian lama tak ada kabar . Tanpa disangka setelah 30th terpisah kami dipertemukan lagi dalam grup kelas. Waktu itu aku iseng-iseng mencari nama teman sekelas, ternyata tak berapa lama temanku langsung menghubungi dan memasukanku dalam grup kelas. Selain bahagia bisa bertemu lagi dengan teman sekelas, tentu saja aku sangat bahagia bisa bertemu dengan sahabat kecilku. Alhamdulillah, keakraban kami terjalin lagi meski baru lewat WA atau FB.

 

Saat reuni kelas, kamipun bertemu dan saling mengenalkan keluarga masing-masing. Dari reuni itu kutahu kalau tak ada yang berubah dari persahabatan kami. Justru sekarang tambah dewasa dan humoris. Kami merasa seperti kakak beradik dengan tetap menjaga etika. Banyak dari teman sekelas yang merasa kagum dengan persahabatan kami. Tapi disitulah kami di uji.

Selang dua tahun sejak pertemuan digrup, persahabatan kami sedikit bermasalah. Putri semata wayangnya tak menyukai persahabatan kami. Putrinya tak ingin Ayahnya membagi waktu dengan orang lain. Itu sangat wajar, Akupun sangat maklum karena persahabatan kami adalah persahabatan lawan jenis, jadi jika tak paham tentu akan berpikir yang bukan-bukan.

Aku tak pernah marah dengan kenakalannya menghapus pertemanan kami di media sosial ataupun di grup. Aku hanya bisa berdoa semoga persahabatan kami bisa baik kembali. Percayalah, bahwa ini murni hanya sebuah persahabatan.

 

 

Magelang, 14 juli 2020

Yunita Soekandar
Latest posts by Yunita Soekandar (see all)
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *