Guru Kita Cahaya yang Tak Pernah Padam

Hari Guru Nasional

Dalam perjalanan hidup yang panjang ini, kita sering kali bertemu dengan banyak orang. Namun, hanya sedikit yang meninggalkan jejak mendalam di hati dan salah satunya adalah guru kita. Beliau hadir bukan hanya sebagai pendidik, tetapi juga sebagai sahabat belajar, pembuka jalan, penuntun langkah, bahkan kadang-kadang menjadi penyembuh bagi semangat yang sempat patah.

Setiap pagi, ketika banyak orang masih memulai hari dengan malas-malasan, guru kita sudah lebih dulu bangun, menyiapkan segala sesuatu untuk memastikan kita mendapat pembelajaran terbaik. Dari menyiapkan materi, mencari inspirasi baru agar pelajaran tidak membosankan, hingga memikirkan murid-murid yang mungkin butuh perhatian lebih yang semuanya dilakukan dengan ketulusan yang kadang tak terlihat, tetapi sangat terasa.

Tidak jarang, kita menjumpai beliau dengan senyum lebar, meski kita tahu di balik itu mungkin ada rasa lelah. Tapi seperti yang sering beliau sampaikan, “Menjadi guru adalah jalan cinta.” Jalan yang ia pilih sendiri, jalan yang ia perjuangkan dengan sepenuh hati. Dan sungguh, kita bisa merasakannya setiap hari.

Al-Qur’an mengabadikan kemuliaan ilmu dan pengajarannya dalam banyak ayat. Salah satunya adalah firman Allah dalam QS. Al-Mujadilah ayat 11:

“Allah akan meninggikan derajat orang-orang yang beriman di antara kamu dan orang-orang yang diberi ilmu beberapa derajat.”

Ayat ini tidak sekadar menunjukkan kemuliaan ilmu, tetapi juga kemuliaan orang yang mengajarkannya. Guru kita adalah bagian dari orang-orang pilihan itu, mereka yang diberi amanah untuk menyampaikan ilmu demi meninggikan derajat banyak manusia.

Hadis Nabi pun menguatkan betapa berharganya peran seorang guru. Rasulullah SAW bersabda:
“Sesungguhnya para ulama adalah pewaris para nabi.” (HR. Tirmidzi)

Guru adalah penerus misi kenabian: menyebarkan ilmu, menebarkan kebaikan, dan menerangi kehidupan. Mungkin kita sering menganggap pelajaran di kelas hanyalah materi biasa, tetapi di baliknya ada warisan panjang peradaban, ada nilai yang mengantarkan manusia dari gelap menuju cahaya.

Dan guru kita melakukan semua itu dengan gaya yang paling indah: sederhana, sabar, dan penuh kasih.

Yang unik dari guru kita adalah caranya menghadapi setiap murid. Tidak pernah ada yang dianggap bodoh, tidak pernah ada yang disepelekan. Beliau percaya bahwa setiap anak punya bintangnya sendiri dan tugasnya hanyalah membantu bintang itu menemukan cahaya. Lewat kata-kata lembut, teguran penuh kasih, atau cerita-cerita inspiratif yang sering tiba-tiba muncul di tengah pelajaran, beliau menuntun tanpa menggurui.

Di ruang kelas bahkan ketika kelas itu sederhana, beliau menjadikannya taman ilmu yang hangat. Tempat di mana kita belajar banyak hal, bukan hanya matematika, bahasa, atau sejarah, tetapi juga tentang kehidupan: bersabar, berusaha, menghargai orang lain, dan menyayangi diri sendiri.

Kita mungkin tidak selalu bisa memahami semua nasihatnya saat itu juga, tetapi seperti benih yang ditanam, kata-kata itu perlahan tumbuh dan menunjukkan maknanya suatu hari nanti. Saat kita menghadapi masalah, tiba-tiba teringat ucapan guru. Saat kita bingung mengambil keputusan, terngiang nasihatnya. Saat berhasil mencapai sesuatu, kita ikut tersenyum sambil membayangkan betapa bangganya beliau.

Hari ini, dengan hati penuh syukur, kita ingin mengucapkan:

Terima kasih, Guru
Terima kasih atas sabar yang tak pernah habis.
Terima kasih atas perhatian yang lembut.
Terima kasih atas ilmu yang begitu luas dan disampaikan tanpa pamrih.
Terima kasih sudah menjadi bagian terbaik dari perjalanan tumbuh kami.

Semoga Allah menuliskan setiap peluh dan lelah Bapak/Ibu sebagai amal jariyah yang terus mengalir. Semoga kesehatan, kelapangan hati, dan kebahagiaan selalu menyertai setiap langkah. Dan semoga apa yang telah Guru tanam di hati kami tumbuh menjadi amal yang kembali menjadi cahaya untuk Guru, di dunia maupun akhirat.

Karena sejatinya, guru tidak hanya mengajar untuk hari ini; mereka menyiapkan masa depan.
Dan guru kita adalah salah satu cahaya terindah yang Tuhan titipkan kepada kita.

“Guru adalah pelita yang tak meminta apa-apa, tetapi menerangi segalanya.”

***

Ditulis oleh Arie Widowati, penulis IIDN Bandung

Bagikan:

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *